Sabtu, 29 Februari 2020

Pemikiran dan Perjuangan Sang Pelopor " Ki Hajar Dewantara"


Judul : Ki Hajar Dewantara, Pemikiran dan Perjuangannya.
Penulis : Prof. Dr. Djoko Marihandono,Nur Khozin,Dri Arbaningsih,Dr. Yuda B. Tangkilisan
Penerbit : Museum Kebangkitan Nasional

Tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh- sungguh dari yang saya inginkan, kecuali di didik dalam bidang pengajaran
Tokoh RM Soewardi Soerjaningrat yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pendidikan yang sangat fenomenal. Walaupun predikat dokter tidak dapat diraihnya, akan tetapi tokoh ini justru berkembang dalam bidang jurnalistik. Kiprahnya di bidang politik diwujudkan dalam tulisan-tulisan yang dimuat di koran dan majalah baik terbitan Hindia Belanda maupun negeri Belanda. Sebagai tokoh yang mahir dalam menulis, ia memiliki pengalaman yang unik karena ia ditahan bahkan dibuang akibat dari tulisan yang dihasilkannya. Selama masa pembuangan, ia pun tetap menulis bahkan sering tenaganya dipinjam untuk menulis di koran/mingguan Belanda. 

Profesi sebagai jurnalis dan politikus ditinggalkan setelah kembali dari pengasingan. Ki Hadjar Dewantara akhirnya berkecimpung di bidang pendidikan setelah ia mendirikan lembaga pendidikan yang diberi nama Pergerakan Pendidikan Taman Siswo. Penghargaan yang tinggi dari pemerintah diberikan kepada tokoh ini, yang menjadikan hari lahirnya sebagai hari Pendidikan Nasional, 
yang diperingati pada setiap 2 Mei. Mudah-mudahan buku ini dapat melengkapi buku-buku yang telah diterbitkan sebelumnya dengan harapan bahwa Bangsa Indonesia tetap mampu menghargai jasa para pahlawannya yang telah berjasa dalam mengantar bangsa ini ke gerbang kemerdekaan dan mampu bersaing dengan bangsa lain.

10 hal menarik bagi saya pribadi mengenai tokoh Sang Pelopor ini yaitu :

1. Seorang yang sangat cerdas, beliau patut menjadi contoh generasi bangsa saat ini dan yang akan datang.

2. Seorang yang ulet, beliau sangat ulet dalam memperjuangkan pemikiran- pemikirannya.

3. Seorang yang sabar, beliau sangat sabar menghadapi para kolonial- kolonial belanda.

4. Beliau mempunyai prinsip  menentukan hak nasib sendiri. Hak menentukan nasib sendiri dari individu yang perlu memperhitungkan tuntutan 
kebersamaan dari masyarakat harmonis, sebagai prinsip dasar lembaga pendidikan ini. Tertib dan Damai menjadi tujuan tertingginya. Tidak ada ketertiban yang terjadi di masyarakat apabila tidak ada perdamaian. Akan tetapi juga tidak akan ada perdamaian selama individu dihalangi dalam mengungkapan kehidupan normalnya. Pertumbuhan alami, merupakan tuntutan yang dibutuhkan bagi pengembangan diri seseorang. Dengan 
demikian, lembaga ini menolak pengertian “pengajaran” dalam arti “pembentukan watak anak secara disengaja” dengan tiga 
istilah “pemerintah – patuh – tertib”. Metode pengajaran yang dianut memerlukan perhatian menyeluruh yang menjadi syarat bagi pengembangan diri demi pengembangan akhlak, jiwa dan 
raga anak. Perhatian inilah yang disebut sebagai “sistem among”.

5. Prinsip beliau membuat Siswa yang mandiri. Sistem ini diterapkan untuk mendidik Siswa menjadi mahlukyang bisa merasa, berpikir dan bertindak mandiri. Di samping memberikan pengetahuan yang diperlukan dan bermanfaat, guru perlu membuat Siswa cakap dalam mencari sendiri pengetahuannya dan menggunakannya agar diperoleh manfaat. Inilah pengutamaan sistem pendidikan among. Pengetahuan yang diperlukan dan bermanfaat adalah pengetahuan yang sesuai kebutuhan ideal dan material dari manusia sebagai warga di lingkungannya.
Pendidikan yang mencerahkan masyarakat. 

Sehubungan dengan masa depan, anggota masyarakat harus diberikan pencerahan. Sebagai akibat dari kebutuhan yang menumpuk, yang sulit dipenuhi dengan sarana sendiri sebagai akibat pengaruh peradaban asing, lembaga pendidikan ini harus sering bekerjasama dalam mengatasi gangguan perdamaian. 

Sebagian dari kaum bumiputera tidak merasa puas. Juga sebagai akibat dari ketersesatan sistem pendidikan itu. Lembaga pendidikan ini harus mencari perkembangan intelektual yang timpang, yang menjadikan kaum bumiputera tergantung secara ekonomi dan juga membuat terasing dari rakyat yang menjadi bagian dari pemerintah kolonial. Dalam kebingungan ini mereka menjadikan budaya Eropa sebagai titik tolak, sehingga Taman Siswo dapat mengambil langkah maju. Atas dasar peradaban sendiri, hanya pembangunan dalam kondisi damai bisa terwujud; 

6. Pendidikan harus mencakup wilayah yang luas. Tidak ada pendidikan betapapun tingginya juga yang bisa membawa dampak bermanfaat bila hanya mencapai kehidupan sosial yang bertahan secara sesaat.

 Pendidikan harus mencakup wilayah yang luas. Kekuatan suatu negara merupakan kumpulan dari kekuatan individu. Perluasan pendidikan rakyat terletak dalam usaha lembaga ini;

7. Perjuangan menuntut kemandirian. Perjuangan setiap prinsip menuntut kemandirian. Oleh karenanya kaum bumiputera jangan mengharapkan bantuan dan pertolongan orang lain, termasuk di dalamnya untuk mewujudkan kemerdekaan. Dengan senang lembaga ini menerima bantuan dari orang lain 
akan, tetapi menghindari apa yang bisa mengikatnya. Jadi Taman Siswo ingin bebas dari ikatan yang menindas dan tradisi yang menekan dan tumbuh dalam kekuatan dan kesadaran kaum bumiputera. 

8. Sistem ketahanan diri. Bila bangsa ini bisa bertumpu pada kemampuan sendiri, semboyannya cukup sederhana. Tidak 
ada persoalan di dunia yang mampu bekerja sendiri. Persoalan itu tidak akan bertahan lama. Mereka tidak bisa bertahan sendiri karena sangat bergantung dari kaum bumiputera. Atas semua yang sudah terjadi selama ini, akan muncul “sistem ketahanan diri” sebagai metode kerja lembaga pendidikan ini. 

9. Pendidikan anak-anak. Lembaga ini bebas dari ikatan, bersih dari praduga. Tujuan lembaga ini adalah mendidik anak-anak. Bangsa bumiputera tidak meminta hak, akan tetapi meminta diberikan kesempatan untuk melayani anak-anak.

10. Pencetus semangat generasi bangsa dengan semboyannya. 
 Ing ngarso sung tulada
Ing madya mangun karso
Tut wuri handayani.

Rawe- rawe rantas malang-malang putus.

Semboyan yang akan membawa semangat generasi bangsa dalam memajukan pendidikan indonesia.

Demikuan sekilas 10 hal menarik dari sebuah biografi Ki Hajar Dewantara. Semoga dapat kita ambil kebermanfaatannya.

Selamat membaca dan Salam literasi.

# RCO Batch 7

Kamis, 13 Februari 2020

Catatan Hati di Setiap Doaku


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku...

Judul Buku : Catatan Hati di Setiap Doaku
Penulis : Asma Nadia, dkk
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tahun terbit : 2014, cetakan ke delapan

Seorang teman pernah berkata kepada saya, "percuma berdoa, toh doa-doa saya tidak pernah dikabulkan!"

Kalimatnya membuat Asma Nadia merenung. Benarkah?

Bukankah Allah dekat dan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Nya? Apa yang salah dengan doa-doa kita?

Allah... jika kita tak lagi percaya kekuatan doa, lantas ke mana wajah harus dihadapkan ketika keputusasaan mengepung dari berbagai sudut dan hidup seakan tak punya harapan?

Buku Asma Nadia ini adalah edisi revisi (dengan penambahan 12 kisah) dari terbitan sebelumnya berjudul Catatan Hati di Setiap Sujudku, yang sekarang sudah sulit ditemui di pasaran.

Buku edisi pertama adalah sebuah proyek bersama dengan anggota milist Asma Nadia. Sementara edisi revisi ini mendapat tambahan dari beberapa Alumni Asma Nadia.

Awal ide penyusunan Catatan Hati di Setiap Doaku beranjak dari keinginan sebagai penulis untuk menebalkan semangat berdoa. Mengajak diri sendiri, juga teman-teman pembaca untuk lebih banyak menengadahkan wajah, menggantungkan hati, pikiran, dan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Besar. Dia pemegang kunci yang mengurai setiap permasalahan. Dia yang memberikan kesembuhan, Dia yang maha mengobati hati dari setiap kesedihan.

Catatan Hati di Setiap Doaku berisi kisah-kisah sejati keajaiban doa yang dirasakan penulis-penulisnya. Menyentuh dan menggugah, bagaimana masing-masing berusaha menemukan kekuatan agar tidak menyerah saat ujian-Nya menyapa.

Sebagian tulisan di buku ini pernah dimuat dalam Catatan Hati di Setiap Sujudku, dan sempat menjadi best seller. Bahkan diterbitkan di Malaysia dan mengalami cetak ulang.

Semoga semakin menebalkan semangat berdoa setiap pembacanya. Hingga tak menempuh jalan pintas lain bagi penyelesaian berbagai persoalan kehidupan.

Gaya bahasa Khas Asma Nadia yaitu lugas,  sangat mudah, dan sederhana sehingga pembaca  semakin luluh dan terenyuh. Semoga tulisan-tulisan dalam buku ini semakin menguatkan kepercayaan kita terhadap-Nya.

Agar keresahan berganti ketenangan.
Agar ketidakmungkinan berganti harapan.
Sama-sama kita meminta, pada Dia YAng Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Busmillah....
Bersamanya, tak ada jala. Buntu

#RCOBatch7
#OneDayOnePost
#Tugas2BukuKedua

Sabtu, 08 Februari 2020

Yuk, Nyalon Kepribadian! ☺

Semut di seberang lautan tampak, gajah di deoan mata tidak tampak.

Judul buku : Salon Kepribadian Jangan Jadi Muslimah Nyebelin
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Cetakan ke : 11
Tahun Terbit : 2015

Masya Allah, sebuah pepatah atau lebih tepat pada sebuah 'ledekan' yang sungguh luar biasa benar. Asma Nadia dalam bukunya berjudul "Salon Kepribadian Jangan Jadi Muslimah Nyebelin" halaman ix.

Prolog yang sungguh mengena bagi pembaca tentunya. Ada apakah gerangan sang Asma membuat prolog tersebut. Mari kita simak. 

Asma memang sungguh penulis yang keren dan hebat dapat menuangkan sebuah gagasan yang dapat menghipnotis pembacanya.  Beliau memaparkan bahwa karakter manusia yang memang JAUH lebih mampu menangkap, melihat, dan memerhatikan apa yang ada di luar, ketimbang yang ada pada dirinya sendiri.

Sehingga beliau mengupas semua kepribadian muslimah dalam bukunya, beliau tak ingin kebanyakan muslimah mempunyai watak yang nyebelin, cuek, tak pedulian dan lain sebagainya. Beliau  berharap muslimah dapat memperbaiki kepribadiannya sehingga tampaklah dari mereka muslimah yang cantik lahir dan bathinnya.

Gaya bahasa yang beli gunakan menggunakan bahasa yang sangat sederhana, gaul dan mudah di pahami. Dalam halaman terakhir ia paparkan mengenai beberapa ibadah yang dapat menambah kecantikan dalam seorang wanita atau lebih dikenal dengan inner beauty.

So, makin penasaran kan dengan isi bukunya? Saya pribadi tak bosan membaca buku tersebut. Bolak balik. Sedikit demi sedikit memahami isi bacaan. Hingga nancep ke ulu hati. Dan berazzam bahwa AKU BISA LEBIH BAIK LAGI!

Pada intinya, buku ini sangat bermanfaat untuk kita semua para muslimah. Buku non fiksi Asma Nadia dan materinya yang mendaging sekali, sangat praktis dan memandu muslimah untuk berproses. Buku ini akan membantu kita "memeriksa" diri kita secara tajam dan kemudian akan membuat kita bergegas memperbaiki penampilan diri dan hati.

Mari kita baca bukunya bersama dan memperbaiki diri bersama-sama.

Selamat membaca dan Salam Literasi 😍

#RCObatch7
#TantanganPertama

Jumat, 31 Januari 2020

Gelombang Cinta Asma

Setiap orang mempunyai harapan dalam membangun rumah tangga dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Namun namanya kehidupan sudah ada yang lebih mengaturnya.

Yah, ada DIA, Allah Sang Maha Pengatur Segalanya. 

Asma adalah tokoh utama dalam sebuah tulisan saya nantinya. Dalam kisah ini, Asma benar-benar merasakan gelombang cinta yang dahsyat dariNya.

Jika mengartikan kata "cinta" tak akan cukup satu dua kata bahkan ratusan dan ribuan kata. Tak satupun manusia yang hidup tanpa Cinta dari Sang Maha Pemberi Cinta. Yah, Dialah Allah azza wajalla. Oleh karena itu Allah berikan manusia cinta agar kita bisa mencintai.

Namun, cinta tak selalu bahagia, kesempurnaan, atau kesuksesan. Cinta juga penuh dengan pengorbanan dan bahkan terselip kekecewaan yang mendalam hingga menyesakkan dada.

Seperti dalam kisah Gelombang Cinta Asma tertuang berdasarkan kisah nyata dan semoga dapat menginspirasi pembacanya.

Selasa, 31 Desember 2019

Asma bersama Putri Semata Wayangnya


Asma Bersama Putri Semata Wayangnya

Rinai hujan tiada henti beberapa hari ini, Asma bersama puteri semata wayangnya asik bergumul dalam selimut hangat di sebuah kamar berpetak ukuran yang tak terlalu besar. Tembok kamar yang berhiaskan lukisan langit biru dan awan putih. Menjadikan keduanya betah lama di kamar. Ia sedang berlibur di Kota Madinah tempat saudaranya. Asma dan Nayya merupakan sosok keturunan Arab. Sehingga mereka masih bisa berkunjung ke Madinah ke tempat saudara-saudara yang lain.

Dalam sebuah kamar tempat kakak Ayahnya Asma. Terdapat Sebuah rak buku berwarna cokelat keemasan bertengger di ujung kamar. Buku-buku banyak yang menempati rak itu. Gemericik air hujan terus terdengar hingga menjelang larut malam, namun Asma dan Nayya masih belum bisa memejamkan mata. Tak seperti biasa kota Madinah di guyur hujan.

Asma akhirnya menemukan sebuah buku bersampulkan warna biru, dihiasi corak bunga nan indah, kemudian bertuliskan “Sirah Shahabiyah Kisah Para Sahabat Wanita”. Sembari membolak-balik buku tersebut Asma bertanya kepada Nayya, “Dek, mau ummi ceritakan beberapa kisah dari buku ini?” suara lembut Asma membuat Nayya mengangguk sebagai pertanda setuju ia ingin mendengar cerita buku itu.

“Baiklah, sayang….yuk, kita ambil posisi yang enak supaya ummi bisa fokus bercerita dan kamu bisa mendengar cerita ummi dengan seksama.” Ajak Asma kepada putri semata wayangnya sembari mengambil bantal, lalu ia letakkan di pangkuannya.

Namun, sebelum  Asma memulai cerita. Nayya pun penasaran memegang buku berwarna biru itu dengan perlahan, membolak-balik buku lembar demi lembar. Nayya makin penasaran dan bertanya kepada Asma, “Ummi, sepertinya buku ini bagus ya? Aku jadi penasaran isinya apa ya?”

“iya, sayang. Mari bukunya ummi pinjam sebentar, ummi akan segera bercerita isi buku ini ya?” ajak Asma dengan lembut.

Asma memulai cerita dengan penuh semangat, ia mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan supaya ketika bercerita dapat memaksimalkan ekspresi dan intonasi dalam ceritanya. Berharap putri semata wayangnya mampu menangkap cerita yang akan ia sampaikan.

“Sayang… Buku ini sangat bagus sekali isinya. Ummi akan membawamu ke masa Sahabat Rasul bernama Asma Binti Abu bakar.”

***

Asma’ adalah putri Abu Bakar Ash Shidiq. Asma adalah sosok muslimah yang berjiwa tegar. Dia terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri. Sehingga membuat Asma menjadi perempuan yang mandiri.  Asma menjadi anak yang gigih dan berusaha bekerja keras. Selama masih ada pekerjaan, Asma tak pernah berpangku tangan.

“Maksud berpangku tangan itu apa, ummi?” sela Nayya karena penasaran dengan cerita yang sedang Asma ceritakan.

“Maksudnya, Asma terus bekerja tak kenal lelah. Contohnya, Nayya rajin bantu ummi beberes rumah selagi belum beres. Nayya terus berusaha membantu ummi untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa mengeluh. Nayya bantu ummi menyapu ruangan, mencuci piring, membantu memasak di dapur.” Jelas Asma kepada putrinya yang menginjak kelas 2 bangku sekolah dasar.

“OHHH…lanjut ummi!” Jawab Nayya sembari penasaran cerita selanjutnya.

Asma’ termasuk pendahulu yang meyakini ajaran Rasulullah. Asma’ berjanji tak akan pernah berpaling dari Allah. Asma’ membuktikan ucapannya. Seluruh ajaran Rasulullah dilaksanakannya.

Suatu ketika, Rasulullah dan Abu Bakar, Abu Bakar adalah Ayah Asma’. Berhijrah. Melakukan perjalanan menuju Kota Madinah, Asma membekali keduanya dengan makanan. Namun sangat disayangkan, Tidak ada tali untuk mengikat bungkusan.

“Ayah, bagaimana ini? Tak ada tali untuk membawa kedua bungkusan bekal Ayah dan Rasulullah?” Tanya Asma kepada Ayahnya.

“Belahlah selendangmu menjadi dua,” Jawab Abu Bakar.

Kemudian Asma mematuhi perintah Ayahnya. Asma melakukan hal yang Ayahnya minta. Karena itu, Rasulullah SAW menjulukinya “Dzaatun Nithaaqain”. Yang artinya “Perempuan pemilik dua selendang kain”.

Sampai akhir hayatnya, Asma tetap bertakwa. Ia menjadi seorang muslimah yang mulia hingga akhir hayat.

“Nah, seperti itu cerita dari Asma’ Binti Abu Bakar, sayang…” ucap Asma sembari menutup buku tersebut.

“Asma benar-benar wanita yang mulia ya, ummi. Tapi kok sama ya namanya seperti ummi?” Tanya Nayya.

“Iya, Sayang. Ayah ummi memberi nama Asma karena berharap ummi bisa seperti Asma’ Binti Abu Bakar, menjadi sosok wanita yang mulia.” Jelas Asma kepada putrinya.

Nayya pun mengangguk dan ia tak tahan lagi menahan rasa kantuknya. Lalu ia merebahkan badannya sembari memegang buku Sirah.

#Tulisan ini terinspirasi dari Buku Sirah Sahabiyah kisah sahabat wanita Rasulullah. Teringat seorang teman yang masih keturunan Arab. Sehingga menjadikan saya membuat cerita ini. Semoga dapat berkenan mewakili Tugas Tantangan pecan 4 kelas Reading Challenge batch 6 ini

Judul : Sirah Shahabiyah Kisah Para Sahabat Wanita
Penulis :Mahmud Mahdi Al Istambuli dan Musthafa Abu AnNashr Asy Syalabi
Penerbit :Maktabah Salafy Press
Tebal Buku : 362 Halaman



#RCO6
#OneDayOnePost

Rabu, 18 Desember 2019

Tugas 2 RCO6 : Review Buku Harry Potter dan Batu Bertuah


Judul Asli : Harry Potter and  the Philosopher’s Stone
Penulis : J. K. Rowling
Penerjemah : Listiana Srisanti
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 382 Halaman

Joanne Kathleen Rowling, Siapa sih yang tak kenal dengan penulis satu ini. Yups, betul sekali. Orang tua yang tengah berjuang membesarkan seorang putrinya ketika ia memulai menuliskan kisah Harry Potter dan Batu Bertuah pada carikan-carikan kertas di kafe setempat. Dewan seni Skotlandia secara tak terduga memberinya penghargaan yang memungkinkan ia menyelesaikan bukunya. Setelah terbit, buku  pertama ini menjadi fenomena internasional, mendapat ulasan luas di media massa, dan meraih berbagai penghargaan termasuk Buku Anak-Anak Tahun ini dari British Book Awards dan The Smarties Prize.

Harry Potter dan Batu Bertuah adalah sebuah novel pertama dalam seri Harry Potter karangan J. K. Rowling yang akan terdiri dari tujuh buku dan menampilkan Harry Potter, seorang penyihir muda. Buku ini terdiri dari 17 bab menggambarkan bagaimana Harry mmengetahui bahwa dia adalah seorang penyihir, membuat teman akrab dan beberapa musuh di Sekolah Ilmu Ghaib dan Ilmu Sihir Hogwarts, dan dengan pertolongan teman-temannya menghalangi kembalinya penyihir jahat Voldemort, yang membunuh orang tua Harry dan mencoba membunuh Harry ketika dia masih berumur satu tahun.

Judul aslinya dalam bahasa Inggris adalah Harry Potter and  the Philosopher’s Stone atau Harry Potter and  the Sorcerer’s Stone di Amerika Serikat. Buku ini pertama kali diterbitkan pada 26 juni 1997 di London oleh Bloomsburry. Mengikuti suksesnya seri ini, sudah dibuat pula seri film dan gamesnya.

Harry potter belum pernah jadi bintang tim Quidditch. Mencetak angka sambil terbang tinggi naik sapu. Dia tak tahu mantra sma sekali, belum pernah membantu menetaskan naga ataupun memakai Jubah Ghaib yang bisa membuatnya tidak kelihatan.

Selama ini dia hidup menderita beserta paman dan bibinya, serta Dudley, anak mereka yang gendhut dan manja. Kamar Harry adalah lemari sempit di bawah tangga loteng, dan selama sebelas tahun. Belum pernah sekal I pun dia merayakan ulang tahun.

Tetapi semua itu berubah dengan datangnya surat misterius yang dibawa oleh burung hantu. Surat yang mengundangnya dating ke tempat yang luar biasa, tempat yang tak terlupakan bagi Harry dan siapa saja yang membaca kisahnya. Karena di tempat itu dia tak hanya menemukan teman, olahraga udara, dan sihir dalam segala hal, dari pelajaran sampai makanan, melainkan juga takdirnya untuk menjadi penyihir besar. Kalau Harry berhasil selamat berhadapan dengan musuh bebuyutannya.

Buku ini mengandung banyak Persamaan dan perbedaan dari segi nilai budayanya, yaitu:

1.       Negara Amerika, inggris dan Indonesia sama-sama menganut paham kepercayaan seperti pada tema perdukunan atau ilmu sihir.
2.       Orang-orang Negara Amerika d, inggris dan Indonesia sama-sama suka bercanda
3.       Perbedaan terlihat karakter sopan santun dalam berjalan, orang Amerika dan inggris terbiasa setiap ada orang berjalan di belakang orang berjalan pasti akan mempersilahkan yang dibelakangnya untuk berjalan terlebih dahulu, sedangkan diindonesia belum terbiasa seperti itu. Hal itu terlihat jelas dalam penggalan cerita harry ini.
4.       Perbedaanya adalah pergaulan bebas, di Amerika Serikat dan inggris sudah terbiasa antara laki-laki dan perempuan bermain bebass. Sedangkan di Indonesia itu budaya tersebut tidak ada. Hanya sekarang-sekarag ini saja Negara Indonesia sudah mulai terjajah dengan masuknya pergaulan bebas
Jika mau dikupas lebih mendalam sebenarnya masih banyak lagi persamaan dan perbedaan budaya dari asal buku ini. Demikian ulasan Buku Terjemahan dari saya, semoga bermanfaat.

#Tugas2RCO6
#OneDayOnePost


Senin, 16 Desember 2019

Tugas 2 RCO 6 : Menyembuhkan Sakit Mnecerdaskan Hati



Judul : Menyembuhkan Sakit Mencerdaskan Hati (Menjawab Fenomena Pengobatan dan Perdukunan)
Penulis : Ibnu Qayyim Al Jauziyah
Penerjemah : Saifuddin Aman
Penerbit :Pustaka Al Mawardi
Tahun Terbit : 2009

Pada dasarnya, semua penyakit pasti ada obatnya. Allah tidak akan menurunkan penyakit kecuali bersamanya diturunkan obat. Rasulullah SAW memberitahu bahwa asas kesehatan adalah menjaga keseimbangan. Disebuutkan dalam hadist : ‘ Perut adalah sumber penyakit dan memelihara antibody adalah pokok penyembuhan. Itulah kaidah kesehatan fisik dalam ajaran islam.

Agar manusia tidak mudah jatuh sakit, maka Allah memberi peringatan : Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (Qs. Al a’raf :31) berlebih-lebihan berarti mengundang kehancuran.

Sebenarnya penyakit fisik itu bermula dari penyakit psikis atau mental. Bahkan menurut penelitian para ahli, penyakit fisik 80 % diakibatkan oleh mental yang rusak dan pikiran yang tidak benar. Rusaknya mental dikarenakan bergelimang dosa dan kemaksiatan, maka Allah akan kirimkan penyakit yang belum pernah ada sebelumnya.

Penyakit dan penyembuhan adalah sebuah keniscayaan yang akan terus ada dan berkembang sepanjang kehidupan. Fenomena penyakit baru akan terus bermunculan. Fenomena pengobatan cara-cara baru juga akan terus diketemukan, begitu pula fenomena perdukunan.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah telah menangkap isyarat fenomena-fenomena tersebut sepanjang zaman. Maka beliau menulis buku Al Da’ wa ad-Dawa’. Yang diterjemahkan oleh ustadz Saifuddin Aman dengan judul “Menyembuhkan Sakit Mencerdaskan Hati, The Trutch of Ilness and Healing. Dengan dasar Al Quran dan Al Hadist , beliau ungkapkan sumber-sumber penyakit. Dengan metode yang disarikan dari Al Quran dan Hadist Beliau memberitahu cara menyembuhkan sakit, baik sakit fisik maupun sakit jiwa.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit mengupas mengenai persamaan atau perbedaan mengenai asal muasal buku ini dengan kondisi Negara kita.

Sudah dijelaskan di atas bahwa Ibnu Qayyim telah menangkap fenomena-fenomena sehingga beliau menuliskannya dalam bentuk tulisan. Sebenarnya tidak jauh beda, pada zaman Rasulullah memang sudah marak adanya pengobatan dengan perdukunan. Seperti halnya, di Negara kita ini.

Pada halaman 9, Saifuddin Aman menuliskan bahwa:

Kabar dari Jawa Timur di permulaan 2009 cukup menggemparkan masyarakat disaat negeri ini sedang mempersiapkan pesta demokrasi. Ribuan orang berjajar antri hanya demi mendapatkan celupan batu untuk sembuh. Dunia mencatat, baru kali itu ada antrian manusia begitu panjang untuk berobat. Di Jakarta dan kota-kota lain, betapa banyak orang antri sesudah shubuh hanya  ingin mendapat usapan batu giok atau getaran magnet untuk sembuh, pengobatan gratis katanya. Singkat Cerita Dimana ada kabar tentang pengobatan yang manjur, orang akan memburunya, sekalipun di puncak gunung.

Dari cuplikan tersebut terdapat persamaan bahwa di Negara kita Indonesia terjangkit perilaku masyarakat yang irrasional. Masyarakat yang masih menganut paham kepercayaan dan perdukunan. Sehingga menimbulkan beberapa sebab terjadinya fenomena seeperti itu.  Adapun beberapa sebabnya adalah :

Pertama, pemerintah belum mampu memberikan pendidikan dan pencerahan kepada masyarakat, dan juga belum mampu menjamin ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan.

Kedua, para ulama kurang berperan dalam menyebarkan akidah yang benar.

Nah, Ulama Besar Ibnu Qayyim Al Jauziyah (Th 1292) mengulas dengan detail tentang faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya penyakit dan factor X yang menjadi penentu kesembuhan. Dan inilah buku beliau yang menjadi referensi utama bagi kita yang terbebas dari sakit, menemukan penyakit dan sekaligus menyembuhkannya. Membaca buku ini, tidak saja Anda menjadi manusia yang sehat, tetapi Anda akan menjadi manusia yang cerdas hatinya. Hati yang cerdas akan mengantarkan Anda meraih sukses dan selamat, dunia dan akhirat.

Perbedaannya dengan Negara kita adalah bahwa Negara kita menganut berbagai macam madzhab, baik hambali atau syafi’I dan yang lainnya. Namun dalam buku karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah ini yang diterjemahkan oleh Saifuddin Aman. Beliau Keislamannya firkahnya menganut paham Sunni bermadzhab Hambali.

Sehingga pemahaman ini masih banyak yang belum dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Hanya pada madzhab tertentu yang dapat menerimanya.

Untuk itu, Apapun madzhab yang mengalir dalam tulisan buku ini. Jika bermanfaat maka gunakan sebaik mungkin ilmunya. Namun jika tak sesuai maka jauhilah dan tak perlu menggunkannya.

Demikian uraian isi Buku ini berdasarkan Persamaan atau perbedaan Negara asal penulis dengan Negara kita Indonesia tercinta ini. Bacalah buku ini, enggak akan nyesel kok. Ilmunya mendaging sekali.

Salam Literasi

Cilacap, 16 Des’ 2019
Menyembuhkan Sakit Mencerdaskan Hati, Ibnu Qayyim Al Jauziyah dialih bahasakan oleh Saifuddin Aman, Pustaka Al Mawardi, 2009



#Tugas 2 RCO6
#OneDayOnePost